Generasi
yang telah mengharumkan nama bangsa pada berbagai event nasional maupun
internasional merupakan hasil dari proses pendidikan yang telah dienyamnya
mulai dari tingkat dini hingga perguruan tinggi. Peserta didik yang dibina dan
digembleng saat ini dalam proses pendidikan di lembaga/satuan pendidikan adalah
penerus sekaligus pengganti dari generasi sekarang dan yang telah lalu. Sekolah
sebagai satuan pendidikan formal yang menjadi wahana tempat mendidik, membina,
membimbing peserta didik harus mempunyai visi yang menjadi petunjuk arah untuk
merencanakan, membuat, melaksanakan program. Pemerintah melalui Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP) membuat standar minimal yang harus dipenuhi oleh
sekolah sebagai lembaga pelaksana pendidikan dalam memberikana layanan minimal
pada peserta didik. Delapan standar
nasional pendidikan meliputi: 1) standar kompetensi lulusan, 2) standar isi, 3)
standar proses, 4) standar pendidik dan kependidikan, 5) standar penilaian, 6)
standar pengelolaan 7) standar pembiayaan, serta 8) standar sarana dan
prasarana (http://www.bnsp-indonesia.go.id.
Diakses 21 Maret 2015)
Sekolah
berprestasi dapat ditinjau dari pretasi yang diraih oleh peserta didik,
pendidik, kepala sekolah, dan prestasi lembaga. Sekolah yang berprestasi unggul
menurut kepala dinas dikpora NTB tergantung pada dua unsur utama yaitu kepala
sekolah dan guru. Pernyataan dilontarkan oleh Bapak dikpora ini berdasarkan
hasil survey dan pantauan di beberapa sekolah di Nusa Tenggara Barat khususnya
Kota Mataram. Kepala sekolah mempunyai peran penting dalam memberikan warna
terhadap proses dan hasil pendidikan. Kemampuan kepala sekolah dalam memanaj
dan mengoptimalkan pemanfaatan dan pemberdayaan semua sumber daya yang ada
sesuai dengan potensi yang tersedia memang menjadi bagian utama dalam
menjalankan organisasi di sekolah. Kompetensi kepala sekolah yang sangat baik
secara individual bila tidak didukung oleh guru/tenaga pendidik yang kompeten
dan profesional tentu kecil kemungkinan akan menjadikan sekolah berpredikat unggul.
Kepala sekolah adalah top leader yang
mempunyai kemampuan lebih dari sisi personality. Menurut Aries dan Sigit (2012)
bahwa motivasi dan gaya kepemimpinan memiliki dampak positif yang
signifikan terhadap disiplin kerja dan kinerja karyawan. Namun, tidak dapat
membuktikan bahwa motivasi memiliki dampak positif yang signifikan terhadap
kinerja karyawan. Guru
yang mendapat kepercayaan menjadi kepala sekolah bukan karena aji mumpung.
Begitu juga pejabat pemegang kekuasaan tidak hanya mengangkat seseorang
berdasarkan subjektifitas dan hubungan emosional. Tapi hendaknya pengangkatan
kepala sekolah melalui proses tahapan yang rasional dan dapat diukur. Proses pengangkatantan
kepala sekolah dapat dilakukan melalui tahapan uji kepatutan, interview dan
pengajuan proposal kerja dalam pengembangan sekolah .
Sekolah
yang secara performance baik belum tentu mempunyai prestasi
bergantung pada peserta didik dan pendidik. Selain itu, bila kepala sekolah
tidak menyeimbangkan program performance (sarana dan prasarana) dengan program mutu sekolah,
akan berdampak pada minimnya prestasi yang diraih. Prestasi sekolah, baik
karena prestasi peserta didik, pendidik, maupun kepala sekolah akan menjadi nilai tawar sekolah untuk dipilih
oleh masyarakat. Program dan kebijakan kepala sekolah sebagai top leader menjadi indikator untuk
melihat arah dari pengembangan sekolah. Namun, sekolah yang berperformans baik
tidak berarti tidak mempunyai prestasi yang baik pula. Performance sekolah biasanya akan seiring dengan prestasi yang
diraih. Menurut Agus (2013) lingkungan sekolah memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap prestassi belajar. Sampai saat ini penelitian tentang
Pengaruh performance (fisik) dalam prestasi masih kurang diteliti sehingga
menarik untuk dikaji pada berbagai tinggkat satuan pendidikan.
Sekolah
dengan penataan lingkungan yang asri, sejuk bersih, dan nyaman serta sarana dan
parasarana yang memadai akan memberikan suasana belajar yang kondusif dan
efeisien. Suasana dan kondisi sekolah yang ideal memang akan memberikan
pengaruh terhadap proses dan hasil belajar bila warga sekolah memberdayakan potensinya
disertai daya dukung, kompetensi, dan profesionalitas. Melirik ke masa lalu,
ketika orang tua kita, para tokoh pendidikan dan negarawan, mereka dahulu
mengeyam pendidikan di tempat yang tidak selayaknya untuk menerima ilmu. Konon
mereka sekolah di bawah gubuk reyot beratap bambu dengan alat tulis sederhana berupa batu. Kalau dilihat dari
kondisi dan ketersediaan dari sarana prasarana yang mereka gunakan tidak
memungkinkan mereka untuk menjadi generasi berprestasi. Potret dari perfomance sekolah tersebut bukan untuk
dijadikan standar apalagi contoh untuk diikuti dalam pembangunan dan
pengembangan sekolah. Sekarang ini,
untuk membuat performance sekolah yang
baik sangat mudah karena didukung oleh ketersediaan biaya. Biaya pendidikan
yang digulirkan oleh pemerintah melalui program Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) sebagai salah satu sumber pembiayaan.
Sekolah
diberikan brand berperformance dengan
kategori tertentu dapat dilihat dari beberapa indikator. Indikator yang
digunakan bersifat relatif tidak baku. Di hongkong, sekolah berdasarkan performancenya dikategorikan menjadi 4
yaitu; Excellent (Sangat Baik), Good (Baik), Acceptable
(cukup/dapat diterima), dan Unsatisfactory
(kurang/tidak memuaskan) pengklasifikaisna sekolah dengan kategori tersebut
ditinjau dari 4 domain yaitu; 1)
manajemen organisasi, 2) pembelajaran dan pengajaran, 3) dukungan
peserta didik dan etos sekolah, dan 4) performance
peserta didik (PI School in Hongkong 2008). Setiap domain dirumuskan ke dalam
beberapa indikator.
Domain
pertama manajemen dan organisasi merupakan ranah manajeraial kepala sekolah
berhubungan dengan perencanaan program, pelaksanaan program, dan evaluasi
program, serta profesionalitas kepemimpinan yang berkaitan dengan kepemimpinan
dan monitoring, kerjasama dan pengembangan profesionalitas. Domain kedua pembelajaran dan
pengajaran/bimbingan yang berhubungan dengan kurikulum meliputi struktur
kurikulum, implementasi kurikulum, penilaian dan evaluasi kurikulum, serta
proses pembelajaran peserta didik meliputi proses pembelajaran, model
pembelajaran yang digunakan, proses pengajaran/bimbingan, serta umpan balik dan
tindak lanjut dari pembelajaran dan bimbingan. Domain ketiga daya dukung
peserta didik dan etos sekolah, daya dukung peserta didik berkaitan dengan
iklim sekolah dan pengembangan dukungan peserta didik. Adapun
yang berkaitan dengan etos sekolah adalah partnerships – hubungan kerja sama dengan pihak luar baik orang tua
maupun dengan pihak instansi terkait baik pemerintah maupun swasta. Domaian
keempat performance peserta didik
yang berkaitan dengan prilaku, sikap, dan prestasi peserta didik.
Umumnya pihak leader
mengartikan performace secara sempit.
Bila kita berdiskusi dengan seorang pemimpin mungkin juga termasuk diri kita
tentang performance sekolah, dapat
dipastikan jawaban umumnya tentang fisik.
Mindset dengan pola sempit diubah
menjadi lebih luas. Akhirnya dalam mengambil kebijakan tidak mengutamakan fisik
saja namun menyelaraskan dan menyeimbangkan semua aspek yang menjadi daya
dukung untuk pengembangan serta kemajuan sekolah. Prestasi tidak lagi dipisahkan
dengan performance karena prestasi merupakan bagian yang
terintegrasi.
Secara
maknawi, prestasi merupakan semua perolehan penghargaan yang diperoleh oleh
seseorang atau lembaga melalui jalur kompetisi atau tidak kompetisi yang
diberikan oleh lembaga atau perorangan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
sekolah yang berprestasi dapat dimaknai sebagai sekolah yang banyak mendapat
penghargaan. Tidak terbatas apakah penghargaan berlevel lokal, regional,
nasional, maupun internasional. Tidak terbatas pula apakah penghargaan meraih
juara harapan, medali perunggu, perak, atau dan emas.
Point utama yang harus dipahami bahwa
dalam memperoleh penghargaan, terdapat proses kompetisi atau usaha untuk ikut
serta berlomba. Keikutsertaan sebagai peserta lomba pada ajang kompetisi
tertentu membutuhkan biaya, persiapan, dan mental baik fisik maupun psikis.
Biasanya faktor penghambat terbesar untuk ikut berkompetisi adalah biaya. Biaya
menjadi alasan utama sekolah untuk tidak mengirimkan delegasi berkompetisi.
Apakah benar biaya saja yang menjadi pengahalang tidak berkompetisi? Tidak,
meskipun biaya tersedia kadang persiapan dalam pembinaan peserta kompetsisi
tidak dilakukan. Namun semua itu hanya masalah klasik, tergantung kepada kepala
sekolah sebagai top leader.
Performance dan prestasi menjadi nilai tawar
sekolah untuk dipilh oleh masyarakat dalam memberikan kepercayaan kepada satuan
pendidikan untuk mendidik, membina, membimbing, dan mengajarkan anak mereka. Masyarakat
sangat mudah menentukan, sekolah mana yang akan dipercaya mampu membentuk
anaknya menjadi generasi emas dengan melihat potret sekolah. Oleh karena itu,
di era sekolah menjamur dimana-mana seperti sekarang ini, sekolah mempunyai
pilihan untuk menentukan ke arah mana sekolah akan dikembangkan, apakah ke arah
fisik atau mutu? Dengan demikian warga sekolah dapat mengembangkan sekolah
sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan tuntutan masa kini dan akan datang.
Penulis
: Herdiyanto, S.Pd., M.Si.






