MPLS " yang Dingin"
Pagi itu hari pertama anak-anak masuk sekolah. Hari dimulainya langkah untuk merajut asa dalam meraih cita-cita. Anak-anak sekolah dengan senang dan gembira datang ke sekolah baru untuk berkenalan dengan teman-teman baru dan bapak/ibu guru yang kan membantunya dalam meraih cita-citanya.
Pagi itu suasana alam yang kian beku, namun tidak membekukan langkah mereka untuk melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menuju sekolah baru. Bekunya alam kala itu membuat mereka makin semangat untuk terus melangkah.
Deruan langkah kaki mereka bergema laksana gemuruh dentuman mariam.
Dentuman langkah memberikan isyarat betapa besar harapan mereka untuk meraih masa depan lebih baik
Sayang seribu sayang
Dentuman suara itu tidak menggerakkan nurani para abdi di tempat mereka akan merajut asa
Abdi dengan santai berjalan menuju tempat tugasnya
Langkah kaki mereka seakan tertahan karena bekunya alam
Tidakkah di sadari ada anak yang punya harapan sedang menantinya
Mungkin juga sadar
Tapi apa daya alam membekukan tubuh si Abdi
Sehingga ayunan langkah seakan terhenti
Kaki tak mampu berayun dengan cepat
Pikiran membeku
Hati membeku
Nuranipun membeku
Sel saraf membawa pesan beku
Tak ada respon
Reaksi yang beku
Aksipun beku
Mulanya hatiku membara
Membara membakar amarah
Aliran darah menyusuri arteriku dengan senyap
Melintaskan bisikan hati membawa pesan damai
Ku tertunduk diam
Ku bertanya dalam hati mengapa Abdi para beku
Hari itu membuat ku tersipuh
Tersipuh pada diriku yang tak mampu mencairkan bekunya alam
Malu karena tak mampu mencairkan harapan anak anak sekolah
Harapan anak-anak sekolah tuk merajut hidup lebih baik.
Ropang, 15 Juli 2019
Pagi itu hari pertama anak-anak masuk sekolah. Hari dimulainya langkah untuk merajut asa dalam meraih cita-cita. Anak-anak sekolah dengan senang dan gembira datang ke sekolah baru untuk berkenalan dengan teman-teman baru dan bapak/ibu guru yang kan membantunya dalam meraih cita-citanya.
Pagi itu suasana alam yang kian beku, namun tidak membekukan langkah mereka untuk melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menuju sekolah baru. Bekunya alam kala itu membuat mereka makin semangat untuk terus melangkah.
Deruan langkah kaki mereka bergema laksana gemuruh dentuman mariam.
Dentuman langkah memberikan isyarat betapa besar harapan mereka untuk meraih masa depan lebih baik
Sayang seribu sayang
Dentuman suara itu tidak menggerakkan nurani para abdi di tempat mereka akan merajut asa
Abdi dengan santai berjalan menuju tempat tugasnya
Langkah kaki mereka seakan tertahan karena bekunya alam
Tidakkah di sadari ada anak yang punya harapan sedang menantinya
Mungkin juga sadar
Tapi apa daya alam membekukan tubuh si Abdi
Sehingga ayunan langkah seakan terhenti
Kaki tak mampu berayun dengan cepat
Pikiran membeku
Hati membeku
Nuranipun membeku
Sel saraf membawa pesan beku
Tak ada respon
Reaksi yang beku
Aksipun beku
Mulanya hatiku membara
Membara membakar amarah
Aliran darah menyusuri arteriku dengan senyap
Melintaskan bisikan hati membawa pesan damai
Ku tertunduk diam
Ku bertanya dalam hati mengapa Abdi para beku
Hari itu membuat ku tersipuh
Tersipuh pada diriku yang tak mampu mencairkan bekunya alam
Malu karena tak mampu mencairkan harapan anak anak sekolah
Harapan anak-anak sekolah tuk merajut hidup lebih baik.
Ropang, 15 Juli 2019






Tidak ada komentar:
Posting Komentar